Life-long learning
Belajar.....
Mungkin
definisi belajar yang sering kita maknai adalah menuntut ilmu disebuah tempat
yang diberi nama sekolah. Pokoknya dalam
hal ini pasti nggak jauh dari kata “sekolah”. Anyway, dulu waktu saya duduk di
bangku Sekolah Dasar, saya malas sekali untuk sekedar berada di sekolah, malas
berada di dalam ruang kelas, dan juga malas bertemu dengan guru yang tak jarang
cara mengajarnya begitu membosankan. Belajar juga berkaitan dengan kegiatan
membaca, menulis, dan praktek menjawab soal-soal. Kalau dipikir-pikir, kegiatan
itu semua tentunya bisa kita lakukan diluar sekolah bukan? Tentunya, belajar
bisa kita lakukan dimanapun dan kapanpun.
Contohnya.....
Ø Membaca,apakah selalu identik dengan buku? Tidak.
Sebenarnya ada banyak hal yang dapat kita baca. Misalnya membaca
keadaan, membaca situasi dan kondisi, membaca apa yang kita pikirkan, dsb. Dari
belajar membaca tentang hal itu, secara tidak langsung kita akan belajar untuk
berpikir sebelum bertindak.
Ø Menulis, apakah selalu identik dengan hanya mencatat apa yang
disampaikan guru?
Tentunya menulis juga dapat digunakan untuk menuangkan ide berupa
karya tulis, mengumpulkan berbagai informasi penting, dsb. Dalam hal menulis
tentunya juga berasal dari apa yang kita baca dan apa yang kita dengar dari
lingkungan sekitar kita.
Ø Praktek.
Lebih luas tentang kegiatan praktek ini tidak hanya akan berkaitan
dengan bagaimana kita mempraktekkan apa yang kita dapatkan dari membaca,
mendengar, dan menulis. Tapi kita juga bisa melakukan praktek dengan lingkungan
sekitar kita misalnya.
Saya sering
mengganggap sekolah itu ya bukan sekolah, melainkan taman bermain. Tempat saya
mengekspresikan diri saya terhadap apa yang sebenarnya ingin saya lakukan. Memang, sekolah itu artinya kita
mengasah ilmu, tapi bukankah mengasah ilmu harusnya tidak hanya disekolah? Ki Hajar Dewantara pun menggagas tempat
belajar dengan nama “Taman Siswa” bukan “Sekolah Siswa”. Right?
Jadi dari kata Taman itu sendiri bisa disimpulkan bahwa belajar
bisa dimanapun, di bawah pohon rindang, di pekarangan depan rumah, di
rerumputan, dan tempat-tempat lainnya. Bapak
pendidikan kita itu juga pernah mengatakan “JADIKAN SEMUA TEMPAT SEBAGAI
SEKOLAH, DAN JADIKAN SEMUA ORANG SEBAGAI GURU”.
Kesimpulannya, untuk belajar tidak harus selalu berada di sekolah. Tetapi dimanapun kita bisa mengambil pelajaran, disitulah kita belajar. Dan belajar itu tidak harus selalu dengan seorang yang memegang jabatan guru. Tetapi siapa saja yang bisa kita serap ilmunya, itulah guru kita.
--------- RUTINITAS ---------
--------- RUTINITAS ---------
Bangun tidur,
sekolah lalu belajar, istirahat kemudian makan, pulang sekolah, mengerjakan PR,
lantas tidur, bangun lagi, sekolah lagi. Ibaratnya dunia, 60% lautan dan 40%
daratan. Belajar disekolah 60% dan diluar sekolah 40%. Ya seperti itulah
kegiatan saya sehari-hari, sangat membosankan.
Menurut saya
pribadi. Sekolah itu penting,
makanya kita harus sekolah, biar kita tau bahwa sekolah itu nggak penting. Cuma
gimana caranya kita tau bahwa sekolah itu gak penting kalau kita nggak sekolah. Bingung? Sengaja saya buat
kalimat seperti itu karena memang saya sendiri suka membuat orang lain berpikir
tentang pikiran aneh saya ini. Hehehe
Dan akhirnya
ketika SMP hingga sekarang saya mencoba merubah pikiran saya, merubah mindset
belajar yang saya anggap membosankan itu. Saya mulai merubah “style” belajar
saya, menciptakan rutinitas yang beda dari biasanya. Bagaimana style belajar
saya? Apakah menjadi orang yang sangat ambisius menuntut ilmu? Sayangnya tidak,
justru saya “biasa aja” dalam belajar. Saya jadikan belajar sebagai permainan,
dimana saya lebih merasa nyaman bermain ketimbang belajar.
Saya belajar dengan cara atau style yang unik, mungkin bisa di
coba........
1. Menggambar.
Jujur, saya pun lebih suka menggambar daripada belajar. Cuma
gimana caranya saya mengolaborasikan hal yang saya suka dengan kegiatan belajar
itu sendiri. Ketika SMP buku tulis saya berisi banyak gambar-gambar, sampai
suatu ketika guru memarahi saya. “Perempuan kok bukunya kotor banget, udah
kayak anak TK” begitu celoteh guru saya. Tapi saya lantas tidak menghilangkan
kebiasaan “bermain” saya itu, karena dengan begitu saya justru menangkap apa
yang guru saya sampaikan melalui gambar yang saya buat. Teringat kata seorang
seniman Dik Doank pada sebuah seminar yang saya ikuti, begini kira-kira “Dengan menggambar
bisa membuat kita menjadi pencipta dan penemu bukan penjiplak dan peniru”. Wright bersaudara pun membuat
pesawat terbang tentu dimulai dengan menggambar desain terlebih dahulu 'kan?
2. Mendengarkan musik, kemudian bernyanyi.
Saya juga suka dengan musik, hampir tiap hari saya mendengarkan
musik. Bahkan disekolah ketika tidak ada guru, saya lebih memilih belajar
sambil mendengarkan musik. Mendengarkan musik mengganggu konsentrasi? Kata
siapa? Justru dengan musik saya bisa belajar Biologi. Lho gimana caranya? Cobain deh, bikin lirik lagu sendiri
dengan materi pelajaran yang ada. Pertama, rangkum dulu materi tersebut sehingga
tau poin pentingnya. Kemudian, nyanyikan dengan nada yang kita suka. Bisa
juga mengambil musik dari musisi favorit. Belajar jadi makin asyik hehe..
3. Being A
Teacher
Salah satu tugas guru adalah
menjelaskan materi kepada muridnya. Sekarang, cobalah peran tersebut dan
jadilah layaknya seorang guru di
depan cermin. Kita bisa mencoba menjelaskan materi dengan bahasa yang mudah
kita mengerti. Ini sekaligus melatih kita untuk presentasi di depan kelas hehe
4. Main Games.
Kenapa selalu bermain? Kapan belajarnya? Lho.. Lhoo.. Tunggu dulu,
kita bisa belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar, sama aja hehe..
Jangan cabut masa bermain terlalu cepat, karena toh suatu saat kita akan
menemukan diri kita yang dewasa tapi kekanak-kanakan. Bener nggak ya? Entahlah
haha :D
Abaikan kalimat saya diatas, lagi-lagi itu hanya pikiran aneh saya
hehe. Belajar sambil bermain? Main apa sih? Tentunya jenis permainan bisa kita
tentukan sendiri. Misalnya, menggunakan kartu seukuran kartu remi yang
bertuliskan pertanyaan tentang materi tersebut. Dikartu yang berbeda bisa
dituliskan jawabannya. Tugas kita hanya mencocokkan kedua kartu tersebut
sehingga menjadi sebuah pertanyaan dengan jawaban yang tepat.
5. Belajar sebelum belajar.
Wah gimana maksudnya? Jadi gini, setiap pagi saya bangun lebih
pagi dari yang lain, sekitar jam 3 pagi, bahkan kadang-kadang jam 2 pagi.
Diwaktu tersebut biasanya sunyi, dan saya nyaman dengan kesunyian. Membuat saya
lebih berkonsentrasi dalam belajar pelajaran yang sudah atau akan saya
pelajari, tanpa ada suara bising yang mengganggu. Saya menilai bahwa itu
menjadi suatu hal yang sangat efektif. Begitulah, saya biasa belajar boongan
sebelum belajar beneran di sekolah hehe..
-------------------------------------
>> Bytheway. Saya suka gambar dan musik, tapi saya sedikit
kecewa. Karena pelajaran terkait dengan hal itu hanya 1 jam pelajaran, seminggu
sekali pula. Jadi, satu berbanding banyak pelajaran, eksak pula. Eiittss tapi
abaikan saja, ini gak perlu dibahas. Pokoknya jadikan saja " School has to be
fun.. Not stressful"
--------------------------------------
Kuncinya adalah mengubah “style” belajar sesuai dengan apa yang
kita suka. Jangan terbelenggu dengan rutinitas belajar yang biasa-biasa aja,
gak seru. Karena kita juga bukan robot, kita manusia dengan segala kreasi yang
kita miliki. Explore. Let’s make it different!
Kalau sudah merubah cara belajar, tapi tetap saja memiliki masalah
di akademiknya. Lantas bagaimana? Simple. Saya pun tidak mau ambil pusing, saya
bukanlah orang yang pintar, tapi saya juga bukan orang yang bodoh-bodoh amat.
Sama seperti yang lain, ketika nilai saya jelek pasti saya kecewa. Tapi saya
tidak terlalu berlarut dan menjadikannya sebuah masalah. Tenang aja, gak masalah kalau
nilai saya kurang maksimal di hal yang saya gak bisa, atau saya gak suka, yang
penting saya terus berusaha, nilai jelek justru memotivasi saya untuk terus
belajar dan belajar.
Yuk kita terapkan “Life-long learning” dimanapun dan
kapanpun. Belajar itu tidak harus
menunggu untuk diajar. Ingatlah tidak ada orang yang bodoh, orang bodoh
hanyalah orang yang menganggap dirinya paling pintar.
Pendidikan membuat kita berilmu, dan ilmu itu harus bermanfaat
bagi diri sendiri dan orang lain. Dan semoga ilmu itu semakin mendekatkan diri
kita pada Allah, jangan lari dari porosnya karena Allah itu Al-Alim, yang Maha
Berpengetahuan, dari Allah-lah ilmu itu terpercik sampai ke otak kita. Jadi kalau
kita pintar jangan sombong, karena dihadapan Allah kita kerdil, terlalu kecil.
Pintar itu orang-orang yang hanya memiliki
nilai-nilai saja, tapi cerdas itu nilainya telah menjelma menjadi kemaslahatan
orang banyak. - Dik Doank
----------------------------------
Firda Fitriani
12 Juli 2015
22.45 WIB


0 Comments: