Life-long learning

08.42 Unknown 0 Comments


              Belajar.....
              Mungkin definisi belajar yang sering kita maknai adalah menuntut ilmu disebuah tempat yang diberi nama sekolah. Pokoknya  dalam hal ini pasti nggak jauh dari kata “sekolah”. Anyway, dulu waktu saya duduk di bangku Sekolah Dasar, saya malas sekali untuk sekedar berada di sekolah, malas berada di dalam ruang kelas, dan juga malas bertemu dengan guru yang tak jarang cara mengajarnya begitu membosankan. Belajar juga berkaitan dengan kegiatan membaca, menulis, dan praktek menjawab soal-soal. Kalau dipikir-pikir, kegiatan itu semua tentunya bisa kita lakukan diluar sekolah bukan? Tentunya, belajar bisa kita lakukan dimanapun dan kapanpun.


             Contohnya.....


Ø  Membaca,apakah selalu identik dengan buku? Tidak.
Sebenarnya ada banyak hal yang dapat kita baca. Misalnya membaca keadaan, membaca situasi dan kondisi, membaca apa yang kita pikirkan, dsb. Dari belajar membaca tentang hal itu, secara tidak langsung kita akan belajar untuk berpikir sebelum bertindak.


Ø  Menulis, apakah selalu identik dengan hanya mencatat apa yang disampaikan guru?
Tentunya menulis juga dapat digunakan untuk menuangkan ide berupa karya tulis, mengumpulkan berbagai informasi penting, dsb. Dalam hal menulis tentunya juga berasal dari apa yang kita baca dan apa yang kita dengar dari lingkungan sekitar kita.


Ø  Praktek.
Lebih luas tentang kegiatan praktek ini tidak hanya akan berkaitan dengan bagaimana kita mempraktekkan apa yang kita dapatkan dari membaca, mendengar, dan menulis. Tapi kita juga bisa melakukan praktek dengan lingkungan sekitar kita misalnya.



----- TAMAN, BUKAN SEKOLAH -----


               Saya sering mengganggap sekolah itu ya bukan sekolah, melainkan taman bermain. Tempat saya mengekspresikan diri saya terhadap apa yang sebenarnya ingin saya lakukan. Memang, sekolah itu artinya kita mengasah ilmu, tapi bukankah mengasah ilmu harusnya tidak hanya disekolah?  Ki Hajar Dewantara pun menggagas tempat belajar dengan nama “Taman Siswa” bukan “Sekolah Siswa”. Right?
Jadi dari kata Taman itu sendiri bisa disimpulkan bahwa belajar bisa dimanapun, di bawah pohon rindang, di pekarangan depan rumah, di rerumputan, dan tempat-tempat lainnya. Bapak pendidikan kita itu juga pernah mengatakan JADIKAN SEMUA TEMPAT SEBAGAI SEKOLAH, DAN JADIKAN SEMUA ORANG SEBAGAI GURU”.

               Kesimpulannya, untuk belajar tidak harus selalu berada di sekolah. Tetapi dimanapun kita bisa mengambil pelajaran, disitulah kita belajar. Dan belajar itu tidak harus selalu dengan seorang yang memegang jabatan guru. Tetapi siapa saja yang bisa kita serap ilmunya, itulah guru kita.


--------- RUTINITAS ---------

              Bangun tidur, sekolah lalu belajar, istirahat kemudian makan, pulang sekolah, mengerjakan PR, lantas tidur, bangun lagi, sekolah lagi. Ibaratnya dunia, 60% lautan dan 40% daratan. Belajar disekolah 60% dan diluar sekolah 40%. Ya seperti itulah kegiatan saya sehari-hari, sangat membosankan.

              Menurut saya pribadi. Sekolah itu penting, makanya kita harus sekolah, biar kita tau bahwa sekolah itu nggak penting. Cuma gimana caranya kita tau bahwa sekolah itu gak penting kalau kita nggak sekolah. Bingung? Sengaja saya buat kalimat seperti itu karena memang saya sendiri suka membuat orang lain berpikir tentang pikiran aneh saya ini. Hehehe

              Dan akhirnya ketika SMP hingga sekarang saya mencoba merubah pikiran saya, merubah mindset belajar yang saya anggap membosankan itu. Saya mulai merubah “style” belajar saya, menciptakan rutinitas yang beda dari biasanya. Bagaimana style belajar saya? Apakah menjadi orang yang sangat ambisius menuntut ilmu? Sayangnya tidak, justru saya “biasa aja” dalam belajar. Saya jadikan belajar sebagai permainan, dimana saya lebih merasa nyaman bermain ketimbang belajar.

Saya belajar dengan cara atau style yang unik, mungkin bisa di coba........

1. Menggambar.
    Jujur, saya pun lebih suka menggambar daripada belajar. Cuma gimana caranya saya mengolaborasikan hal yang saya suka dengan kegiatan belajar itu sendiri. Ketika SMP buku tulis saya berisi banyak gambar-gambar, sampai suatu ketika guru memarahi saya. “Perempuan kok bukunya kotor banget, udah kayak anak TK” begitu celoteh guru saya. Tapi saya lantas tidak menghilangkan kebiasaan “bermain” saya itu, karena dengan begitu saya justru menangkap apa yang guru saya sampaikan melalui gambar yang saya buat. Teringat kata seorang seniman Dik Doank pada sebuah seminar yang saya ikuti, begini kira-kira “Dengan menggambar bisa membuat kita menjadi pencipta dan penemu bukan penjiplak dan peniru”. Wright bersaudara pun membuat pesawat terbang tentu dimulai dengan menggambar desain terlebih dahulu 'kan?


2. Mendengarkan musik, kemudian bernyanyi.

    Saya juga suka dengan musik, hampir tiap hari saya mendengarkan musik. Bahkan disekolah ketika tidak ada guru, saya lebih memilih belajar sambil mendengarkan musik. Mendengarkan musik mengganggu konsentrasi? Kata siapa? Justru dengan musik saya bisa belajar Biologi. Lho gimana caranya? Cobain deh, bikin lirik lagu sendiri dengan materi pelajaran yang ada. Pertama, rangkum dulu materi tersebut sehingga tau poin pentingnya. Kemudian, nyanyikan dengan nada yang kita suka. Bisa juga mengambil musik dari musisi favorit. Belajar jadi makin asyik hehe..


3. Being A Teacher
    Salah satu tugas guru adalah menjelaskan materi kepada muridnya. Sekarang, cobalah peran tersebut dan jadilah layaknya seorang guru di depan cermin. Kita bisa mencoba menjelaskan materi dengan bahasa yang mudah kita mengerti. Ini sekaligus melatih kita untuk presentasi di depan kelas hehe


4. Main Games.

    Kenapa selalu bermain? Kapan belajarnya? Lho.. Lhoo.. Tunggu dulu, kita bisa belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar, sama aja hehe.. Jangan cabut masa bermain terlalu cepat, karena toh suatu saat kita akan menemukan diri kita yang dewasa tapi kekanak-kanakan. Bener nggak ya? Entahlah haha :D
    Abaikan kalimat saya diatas, lagi-lagi itu hanya pikiran aneh saya hehe. Belajar sambil bermain? Main apa sih? Tentunya jenis permainan bisa kita tentukan sendiri. Misalnya, menggunakan kartu seukuran kartu remi yang bertuliskan pertanyaan tentang materi tersebut. Dikartu yang berbeda bisa dituliskan jawabannya. Tugas kita hanya mencocokkan kedua kartu tersebut sehingga menjadi sebuah pertanyaan dengan jawaban yang tepat.


5. Belajar sebelum belajar.
    Wah gimana maksudnya? Jadi gini, setiap pagi saya bangun lebih pagi dari yang lain, sekitar jam 3 pagi, bahkan kadang-kadang jam 2 pagi. Diwaktu tersebut biasanya sunyi, dan saya nyaman dengan kesunyian. Membuat saya lebih berkonsentrasi dalam belajar pelajaran yang sudah atau akan saya pelajari, tanpa ada suara bising yang mengganggu. Saya menilai bahwa itu menjadi suatu hal yang sangat efektif. Begitulah, saya biasa belajar boongan sebelum belajar beneran di sekolah hehe..

-------------------------------------

>> Bytheway. Saya suka gambar dan musik, tapi saya sedikit kecewa. Karena pelajaran terkait dengan hal itu hanya 1 jam pelajaran, seminggu sekali pula. Jadi, satu berbanding banyak pelajaran, eksak pula. Eiittss tapi abaikan saja, ini gak perlu dibahas. Pokoknya jadikan saja "School has to be fun.. Not stressful"

--------------------------------------

              Kuncinya adalah mengubah “style” belajar sesuai dengan apa yang kita suka. Jangan terbelenggu dengan rutinitas belajar yang biasa-biasa aja, gak seru. Karena kita juga bukan robot, kita manusia dengan segala kreasi yang kita miliki. Explore. Let’s make it different!
              Kalau sudah merubah cara belajar, tapi tetap saja memiliki masalah di akademiknya. Lantas bagaimana? Simple. Saya pun tidak mau ambil pusing, saya bukanlah orang yang pintar, tapi saya juga bukan orang yang bodoh-bodoh amat. Sama seperti yang lain, ketika nilai saya jelek pasti saya kecewa. Tapi saya tidak terlalu berlarut dan menjadikannya sebuah masalah. Tenang aja, gak masalah kalau nilai saya kurang maksimal di hal yang saya gak bisa, atau saya gak suka, yang penting saya terus berusaha, nilai jelek justru memotivasi saya untuk terus belajar dan belajar.

 Yuk kita terapkan “Life-long learning” dimanapun dan kapanpun. Belajar itu tidak harus menunggu untuk diajar. Ingatlah tidak ada orang yang bodoh, orang bodoh hanyalah orang yang menganggap dirinya paling pintar.


Pendidikan membuat kita berilmu, dan ilmu itu harus bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Dan semoga ilmu itu semakin mendekatkan diri kita pada Allah, jangan lari dari porosnya karena Allah itu Al-Alim, yang Maha Berpengetahuan, dari Allah-lah ilmu itu terpercik sampai ke otak kita. Jadi kalau kita pintar jangan sombong, karena dihadapan Allah kita kerdil, terlalu kecil.


Pintar itu orang-orang yang hanya memiliki nilai-nilai saja, tapi cerdas itu nilainya telah menjelma menjadi kemaslahatan orang banyak. - Dik Doank

----------------------------------

Firda Fitriani
12 Juli 2015
22.45 WIB

0 Comments: